ANALISIS METODE BAGHDADIYYAH DAN METODE IQRA’

 

 

ANALISIS METODE BAGHDADIYYAH DAN METODE IQRA’

MK. THURUQ TA’LIM AL-LUGHAH AL-‘ARABIYYAH

 

 

Dosen Pengampu :

Dr. Saproni

 

Disusun Oleh :

Tengku Kholdila Priyhelma

202710140

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM RIAU

 

 

A.    PENGERTIAN METODE BAGHDADIYYAH

           

            Metode baghdadi adalah metode pembelajaran Al-Qur’an dengan cara dieja per hurufnya. Metode baghdadi adalah metode yang digunakan untuk mengajarkan anak membaca Al-Qur’an dengan mengeja huruf Al-Qur’an perkata. Dalam penerapan metode baghdadi guru melafazkan huruf Al-Qur’an kemudian diikuti oleh anak-anak, selanjutnya anak-anak dapat melafazkannya sendiri.

 

            Metode baghdadi metode ini digunkan umat Islam hampir diseluruh dunia Islam. Selanjutnya dalam pembelajaran menggunakan metode baghdadi yaitu dengan cara menghafal, mengeja, modul, tidak variatif dan pemberian contoh yang absolute.

 

            Melalui metode ini telah melahirkan banyak kaum muslimin yang mahir membaca Al-Qur’an. Penggunaan metode baghdadi santri harus menghafal huruf hijaiyah, santri harus mengeja huruf hijaiyah, santri harus dapat menguasai materi sebelum melanjutkan ke materi selanjutnya, dan guru mempunyai tugas yaitu memberikan contoh terlebih dahulu.

 

            Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode baghdadi adalah rangkaian kegiatan untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan terencana dan tersusun dengan tujuan untuk memperbaiki serta membaguskan bacaan Al-Qur’an.

 

B.     SEJARAH METODE BAGHDADIYYAH

            Metode ini berasal dari kota Baghdad, Iraq pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Belum diketahui secara pasti munculnya metode ini, metode ini muncul pada era sebelum 1980an di Indonesia. Metode ini merupakan yang pertama muncul dan merupakan metode tertua di Indonesia yaitu dengan pengajaran huruf hijaiyah dan juz amma.

 

            Metode baghdadi merupakan metode masa lampau yang telah teruji keberkahannya. Dikarenakan metode ini sudah dipakai sejak lama dan sudah sangat senior sehingga tidak dapat diketahui secara pasti siapakah orang yang mencetus atau menyusun metode baghdadi dalam pembelajaran membaca AlQur’an atau huruf hijaiyah. Hanya nama metode baghdadi yang dapat memberikan secercah informasi bahwa metode ini berasal dari zaman khalifah abbasiyah yang di nisbatkan kepada kota Baghdad di irak.

 

            Metode baghdadi adalah metode tersusun (Tarkibiyah), maksudnya yaitu suatu metode yang tersusun secara berurutan dan merupakan sebuah peroses ulang atau lebih kita kenal dengan sebutan alif, ba’, ta’. Metode ini juga metode yang paling lama muncul dan digunakan masyarakat Indonesia bahkan metode ini juga merupakan metode yang pertama berkembang di Indonesia.

 

C.    CARA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN METODE BAGHDADIYYAH

           

            Dalam kitab qowaidah baghdadiyah ma’a juz amma, disana terdapat cara-cara pembelajaran Al-Qur’an dengan metode baghdadi, yaitu :

a.       Hafalan

Jadi setiap santri diharuskan untuk menghafal terhadap materi-materi yang sudah dipelajari pada setiap kali pertemuan.

b.      Mengeja

Jadi setiap kali pertemuan seorang guru menulis dipapan tulis atau menunjukkan langsung di buku metode baghdadi yang telah di pegang masing-masing oleh santri, lalu guru membacakannya dengan mengeja santri atau peserta didik menirukan sehingga terjalin komunikasi antara antara guru dan santri.

c.       Modul

Para santri diberi modul untuk dipelajari dan dibaca atau bahkan menulis terhadap materi yang sudah dipelajari. Santri yang lebih dahulu menguasai materi dapat melanjutkan kepada materi atau halaman berikutnya tanpa harus menunggu teman yang lain.

d.      Tidak variatif

Misalnya, seorang guru dalam memberikan bimbingan diawali dengan memberikan contoh kemudian santri mengikutinya, sehingga santri tidak diperlukan bersikap aktif.

           

            Dengan sistem pengajaran baghdadi ini memungkinkan hubungan antara guru dan murid sangat dekat, dikarenakan dengan menggunakan metode ini guru dapat mengenal kemampuan pribadi muridnya satu persatu. Karena setiap anak mendapatkan kesempatan untuk membaca AlQur’an akan jelas terlihat saat mereka melafazkannya. Metode ini lebih efektif digunakan karena anak-anak akan lebih cepat mengenal hurufhuruf Al-Qur’an.

 

D.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN METODE BAGHDADI

           

Langkah-langkah dari Metode Baghdadiyyah antara lain sebagai berikut :

a.      Pengenalan Huruf Hijaiyah

Pada tahap ini santri dituntut untuk menghafal huruf hijaiyah yang ada 30 (lam alif dan hamzah diikutsertakan) tanpa menggunakan harakat, dengan cara mengejanya, menulisnya, dan menghafalnya. Dengan demikian peserta didik dapat mengerti dasar dari huruf arab.

Contohnya: alif, ba, ta, tsa, jim, kha. Kho, dal, dzal, ro, za, sin, syin, shod, dhod, tho, dzo, ain, ghin, fa, qof, lam, mim, nun, wawu, ha, lam alif, hamzah, ya.

b.      Pengenalan Huruf Dengan Harakat

Setelah siswa harus sudah menghafal huruf hijaiyah yang tidak menggunakan harakat, tahap selanjutnya siswa tersebut disuruh untuk menghafal huruf hijaiyah yang sudah diberi harakat. Harakat yang pertama dikenalkan adalah harakat fathah.

Kemudian para siswa dapat menghafalkan huruf-huruf yang berharakat selain fathah yaitu kasrah dan dhamah masing-masing dari huruf hijaiyah satu hurufnya diulang-ulang sebanyak tiga kali yang kemudian diberi harakat fathah, kasrah, dan dhamah. Dengan demikian murid-murid akan mengerti bagaimana huruf hijaiyah yang berakat fathah, kasrah, dhamah, dan bagaimana bentuk fathah, kasrah, dhamah. Contohnya: a-i-u, ba-bi-bu, ta-ti-tu, tsa-tsi-tsu, ja-ji-ju, kha-khi-khu, kho- khi-khu, dan seterusnya.

Kemudian setelah itu santri akan belajar mengenal harakat yang bertanwin (baris dua) yaitu fathah tanwin, kasrah tanwin, dhamah tanwin. Sama dengan yang diatas dalam tingkat ini masing- masing dari huruf hijaiyah juga satu hurufnya diulang-ulang sebanyak tiga kali yang kemudian diberi harakat fathah tanwin, kasrah tanwin, dhamah tanwin.

Contohnya: an-in-un, ban-bin-bun, tan-tin-tun, tsan-tsin-tsun, jan-jinjun, dan seterusnya.

 

c.       Pengenalan Huruf Sambung

Pada langkah ini para santri atau peserta didik akan diajarkan bagaimana bentuk huruf-huruf yang disambung dan diajarkan juga bagaimana cara membacanya. Selain itu peserta didik dapat mengetahui mana huruf yang bisa disambung dan mana yang tidak bisa disambung. Santri juga dituntut untuk membaca huruf yang sudah disambung. Dengan menggunakan kaidah-kaidah yang telah disepakati para ulama. Kaidah-kaidah tersebut meliputi hukum nun mati dan tanwin, hukum mim mati, dan lain-lain. Dengan cara seperti itu maka santri akan mengetahui bacaan- bacaan yang ada dalam Al-Qur’an dan mengetahui kaidah-kaidah yang benar. Contohnya: al-la, bal-la, tal-la, tsal-la, dan seterusnya. In-ini, bin-ini, tin-ini. Tsin-ini, dan seterusnya.

 

d.      Pengenalan Juz Amma

Setelah santri telah menguasai huruf-huruf sambung dan dapat membacanya dengan baik dan benar, kemudian langkah selanjutnya para santri dicoba untuk membaca surat-surat yang ada di juz 30 atau juz amma. Setelah selesai menguasai surat-surat yang ada di juz amma barulah para santri bisa membaca Al-Qur’an. Setelah santri dapat membaca juz amma maka santri disuruh untuk menghafalkan juz amma dan mengulang-ulang surat yang sudah dihafalkan.

 

E.     KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE BAGHDADIYYAH

 

Kelebihan Metode Baghdadiyyah :

1.      Santri mudah dalam pembelajaran karena sebelum pemberian materi para murid sudah hafal huruf hijaiyah.

2.      Santri dengan kemampuan baik bisa segera selesai tanpa terpancang dengan rekannya yang berbeda tingkat kemampuan.

3.      Bahan materi metode ini disusun secara sekuensif.

4.      Adanya penyusunan wazan atau pola bunyi secara rapi.

5.      30 huruf hijaiyah di setiap jenjang secara utuh dan menjadi tema pokok pembelajaran ini.

6.      Daya tarik tersendiri dalam ketrampilan mengeja yang dikembangkan.

7.      Materi Tajwid yang terintegrasi pada setiap langkah pembelajaran.

 

Kekurangan Metode Baghdadiyyah :

1.      Memerlukan waktu yang luama.

2.      Santri kurang aktif karena metode mengekor ucapan dari pengajar.

3.      Kurang variatif karena hanya menggunakan 1 jilid.

4.      Belum diketahui qaidah baghdadiyah yang asli dan metode ini diyakini telah memiliki perubahan atau modifikasi minor / kecil.

5.      Penyajian materi yang membosankan/menjemukan karena begitu begitu saja.

6.      Penampilan huruf yang mirip bisa berakibat siswa mengalami kesulitan.

7.      Diperlukan waktu yang relatif lama guna dapat membaca alquran dengan metode ini.

 

A.    PENGERTIAN METODE IQRA’

                        Istilah metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “methodos” yang berasal dari kata “metha” dan “hodos”. Kata metha berarti melalui sedangkan hodos berarti jalan, jadi metode berarti jalan yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan.

                        Metode ini adalah salah satu metode membaca Al-Qur’an dengan memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah yang langsung menekankan pada latihan membaca. Metode iqro’ ini tersusun sistematis dimulai dari level sederhana hingga level yang lebih sempurna sehingga dapat digunakan untuk semua kalangan baik anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia.

B.     SEJARAH METODE IQRA’

                        K.H. As’ad Humam lahir di Yogyakarta pada tahun 1933 dan wafat pada 2 Februari 1996 di usia beliau yang ke-63 tahun. Pada usia remaja, beliau mengalami pengapuran dini yang membuatnya sulit bergerak seperti orang-orang pada umumnya.

                        Namun, meskipun hidupnya dalam keterbatasan namun beliau tidak menyerah dalam menyebarkan ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang. Beliau mulai aktif dalam dunia pendidikan Islam setelah berkenalan dengan K.H. Dahlan Salim Zarkasy.

                        Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, K.H. As’ad Humam mulai mengembangkan metode belajar membaca Alquran yang mudah untuk dipahami, beliau mulai menyusun metode Iqro’ ini untuk orang-orang yang ingin belajar membaca Alquran.

                        Hingga pada akhirnya, metode ini dikenal luas oleh masyarakat muslim di Indonesia dan diterima dengan sangat baik. Hal ini dikarenakan metode Iqro’ ini dianggap sangat praktis dan mudah dipelajari terutama untuk anak-anak sehingga mereka dapat mudah mengenal huruf-huruf hijaiyah dengan mudah.

                        Meskipun beliau hanya mampu menempuh kelas 2 di Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta atau setara dengan SMP, namun gelar pahlwan sangatlah layak disematkan pada beliau ini yang berjuang dengan pemikiran-pemikirannya dalam melestarikan Alquran.

                        Bahkan kita semua mendapatkan manfaat yang sangat luar biasa dari metode Iqro’ yang ditemukan oleh K.H. As’ad Humam. Saat ini, metode Iqro’ ini sudah tidak hanya digunakan oleh masyarakat muslim Indonesia saja, namun beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan beberapa negara lain juga telah menerapkan metode ini sebagai sarana belajar membaca Alquran dengan praktis dan mudah.

C.    CARA PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN METODE IQRA’

                        Proses pengajaran metode iqro’ dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai situasi dan kondisi. Berikut proses pengajaran metode iqro’ dengan rincian dibawah ini:

a.       Metode individual Metode individual yaitu metode mengajar dengan berputar satu persatu secara bergantian sesuai materi iqro’ yang dikuasai anak didik ketika menunggu giliran untuk menghadap guru, maka anak didik lain akan mendapatkan tugas menulis, membaca atau kegiatan yang lainnya.

Metode individu ini dapat diterapkan apabila dalam situasi dan kondisi dibawah ini:

1) Jumlah anak didik tidak memungkinkan untuk klasikal.

2) Jumlah ruangan yang digunakan tidak memadai untuk semua anak didik.

3) Perbedaan tingkat atau jilid iqro’ yang sudah anak pelajari, karena dalam satu kelas tingkat kemampuan anak berbeda-beda.

 

b.      Metode klasikal Metode klasikal adalah mengajar dengan memberikan materi di kelas dimana anak didik tidak berhadapan dengan guru satu persatu, tetapi semua anak didik menghadap guru dengan saling membaca iqro’masing-masing dan mendengarkan penjelasan guru. Tujuan dari metode klasikal ini yaitu sebagai berikut: 1) Supaya dapat menyalurkan seluruh pelajaran secara garis besar dan prinsip-prinsip yang mendasarinya. 2) Memberikan motivasi semangat belajar anak didik.

 

c.       Klasikal-Individual Klasikal individual yaitu proses mengajarnya dibagi menjadi dua periode waktu. Metode ini merupakan kombinasi yang dapat diterapkan pada topik pembahasan yang sama.

 

F.     SISTEMATIKA METODE IQRA’

            Sistematika atau tahapan iqro’ karya KH. As’ad Humam terdiri dari 6 tahapan atau disebut juga jilid yang tersusun sistematis dan terperinci sebagaimana berikut ini:

a.    Jilid 1

Pada jilid 1 diperkenalkan bacaan yang seluruhnya berisi pengenalan huruf tunggal yang berharokat fathah.

b.   Jilid 2

Pada jilid 2 diperkenalkan huruf bersambung dan bacaan mad berharokat fathah.

c.    Jilid 3

Pada jilid 3 diperkenalkan harokat kasrah, dhommah serta panjang pendeknya.

d.   Jilid 4

Pada jilid 4 diperkenalkan dengan harakat tanwin dan sukun dan diperkenalkan hukum bacaan qolqolah.

e.    Jilid 5

Pada jilid 5 anak diperkenalkan bacaan yang mengandung tajwid, namun anak belum diperkenalkan istilah-istilahnya.

f.    Jilid 6

Pada jilid 6 anak diperkenalkan hukum bacaan nun mati dan aturan membacanya.

 

G.    KELEBIHAN DAN KEKURANGAN METODE IQRA’

 

Kelebihan Metode Iqro yaitu:

1.      Metode iqro’ telah diterapkan di seluruh penjuru indonesia.

2.      Menggunakan sistem CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif).

3.      Metode iqro’ fleksibel pada kenaikan jilid.

4.      Praktis, karena guru langsung memahami kemampuan masingmasing anak.

5.      Sistematis, disusun dengan tingkat keahlian yang berbeda dan mudah diikuti dari bacaan yang mudah ke sulit dibaca.

 

Kekurangan Metode Iqro’ sebagai berikut:

1.      Anak didik kurang tahu ,emgenai nama huruf hijaiyah asli karena tidak diperkenalkan pada awal pembelajaran.

2.     Anak didik kurang tahu istilah atau nama bacaan dalam ilmu tajwid.

Komentar